Jantan Agung …

Baca juga sebelumnya

 http://ruanghati.blogdetik.com/2009/01/1…

 http://ruanghati.blogdetik.com/2009/04/0…

 http://ruanghati.blogdetik.com/2009/04/1…

———————

Kulihat lagi anak lelaki itu, menjijikan , air liurnya terus saja turun dan tatapan matanya kosong. Bentuk dahi mata dan tulang pipinya terlihat aneh, dan anak lelaki itu menggumam tak jelas. Entah apa yang ada dipikirannya.

Belum pernah sekalipun aku memeluk anak lelaki itu, tak pernah sekalipun aku menatap matanya, tak pernah juga kusentuh kulitnya. Meskipun aku mencintai dan menyayanginya . Melihatnya pun mungkin hanya setahun sekali, tapi aku selalu rutin mengirim semua keperluannya di yayasan sekolah anak-anak cacat ini .

Kutarik nafasku dalam ketika Ibu Diah, pimpinan yayasan ini menyentuh bahuku pelan .

“Sudah 2 hari agung seperti itu bu …” katanya lembut . “Dia hanya bergumam tak jelas, tak senyum dan tak mau di sentuh kecuali dengan Mbak Ika yang setiap hari memang membantunya”

Aku hanya tercenung, tatapanku kembali pada anak kecil berumur 5 tahun itu, putih bersih kulitnya . Kalau saja mukanya tidak aneh seperti itu pasti wajahnya ganteng. Dan untuk anak seumuran dia, tubuhnya terlihat lebih jangkung. Hanya air liur yang selalu keluar itu yang membuat aku jijik melihatnya.

“Apa dia sakit bu …? “ tanyaku perlahan .

Ibu Diah hanya tersenyum . “Agung tidak sakit Bu, Agung butuh kasih sayang dan sentuhan Ibu …” ucap Ibu Diah lirih tapi cukup menohok hatiku. Masih belum bisa kuakui itu. Masih teriris rasanya , dia tak benar-benar kuinginkan.

——————–

Hari ini hari pertama aku ke Yogyakarta, kota kelahiranku, aku akan selalu pulang ke Yogya jika hati dan perasaan ku sedang tak tentram . Aku merasa tenang jika aku sudah kembali ke Yogya, meski ada beberapa kenangan pahit disini tetapi ketika turun dari pesawat tadi aku merasakan ketenangan dan aku pasti akan mengunjungi anak lelaki itu .

Kejadian beberapa hari lalu mengusik bathinku, serasa kepingan yang tak akan pernah selesai seolah bermain di benak dan kepalaku. Hari-hariku hanya indah jika bersama lelaki itu, tak akan pernah bisa kutinggalkan pelukannya , apalagi tatapan teduhnya . Jiwaku selalu merindukan halus desah nafasnya. Aku selalu merasa damai dan nyaman serta terlindungi bila dekat di dekapan lelaki itu. Selalu terasa lapang ketika aku memeluknya . Ah … baru dua hari kutinggalkan Jakarta dan lelaki itu. Bau keringatnya sudah kurindukan.

Dua hari yang lalu aku bersama lelaki itu merenda hati dan asmara asa yang tidak akan pernah ada habisnya . Tak pernah ada satu lelakipun di dunia ini yang aku cintai kecuali dia. Walaupun aku melayani setiap lelaki yang membayarku , tetapi tak pernah kuberikan hati ku kepada mereka , hanya tubuhku milik mereka dalam jam-jam yang mereka bayar. Tetapi ketika bertemu dengan lelaki itu bukan hanya tubuh yang kuberikan hati dan jiwaku ku gadaikan untuknya. Hanya untuk lelaki itu , di se umur hidupku. Aku termakan sumpah.

Telepon yang ditutup dengan bergegas di seberang sana membuat aku termenung lama . Aku tahu pasti itu siapa , dan dia mencari siapa. Kutoleh kan kepala ku kesamping, kulihat lelaki itu terlelap tidur tenang sekali. Kulihat nafasnya teratur berbunyi satu-satu. Wajah lelaki ini begitu sempurna, tubuhnya kekar dan kuat. Ucapan yang keluar dari mulutnya selalu indah untukku. Dia perlakukan aku seperti seorang putri, dia tidak pernah menyakitiku. Bercinta pun selalu terasa di surga . Lelaki itu selalu memberikan yang terbaik untukku. Duh cinta ku …. , tak benar-benar kau ku miliki seutuhnya.

Ku tundukkan kepala untuk mencium keningnya sambil kupejamkan mata dan hati ku menggumamkan doa, semoga semua ini tak pernah hilang dari asaku. Tetapi tiba-tiba kurasakan tangannya menyentuh leher ku dan memeluk tubuhku erat , membuatku jatuh menimpah tubuhnya yang terlentang. Entah bagaimana aku sekarang berada dibawah nya dan bibirnya dengan sikap mengulum bibirku . Lembut dan indah , lelaki itu menciumi wajahku dengan ketenangan , mataku, hidungku, kedua pipiku dan lama di bibirku, lalu turun ke leher ku. Aku mendengar dengusan nafas ringan tapi aromanya membuat dadaku berdesir merasakan kegairahan yang kembali datang.

Semua hilang , keresahan hati lenyap berganti dengan gejolak asmara, mengapa aku selalu haus akan cintanya , kasih sayangnya dan semua sentuhannya, hanya sentuhannya yang bisa membuat semua pori-pori ditubuh menikmatinya. Kali ini lelaki ini memperlakukan semua yang ada ditubuhku dengan sangat hati-hati , dia menyentuh semua milikku dengan lembut. Sampai ketika aku merasakan semua, bagai kapal yang berlayar semakin cepat karena angin mempermainkan layarnya dengan riang. Aku menyambut kedatangan ombak dan desau angin dengan kegairahan yang matang. Lelaki itu sedang membawa ku berlayar dengan kayuhan yang mesra. Aku tiba diujung bersama-sama , kami mereguk semua nya dengan bersama . Kulihat dia tersenyum , dia mencium mataku yang basah oleh airmata bahagia dan kesedihan. Rasa yang datang sekaligus bersamaan.

———————

Kamar Hotel di Yogyakarta

Pagi jam delapan pagi, aku sudah bergegas untuk datang ke yayasan tempat anak lelaki kecil itu. Aku ingin melihatnya lagi dan kali ini aku ingin menyentuhnya , aku ingin menyentuh pipinya , aku ingin menatap matanya. Tak tahu apakah aku sanggup melihat anak lelaki itu .

Cepat kuberhentikan sebuah taksi dan memintanya mengantarkan ke alamat yang aku tuju ditengah kota tak jauh dari hotel tempat aku menginap. Hmmm aku akan tuntaskan hari ini, mungkin ini kali terakhir aku mengunjunginya. Aku akan bilang pada Ibu Diah untuk tetap merawat anak lelaki itu sampai nanti dan aku akan tetap mengirimi biaya bulanan tapi aku tidak akan mengunjunginya lagi, dan jika nanti ada keluarga yang memang ingin merawatnya, aku akan serahkan semua kepada Ibu Diah dan pengacara ku. Biar beres semua, biar kutinggalkan semua masa lalu ini .

“Selamat pagi Bu Anna …” sapa Ibu Diah lembut ketika melihat ku sudah ada di ruangan nya.

Aku tersenyum, meski Ibu Diah itu sudah menganggap aku anaknya tapi beliau tetap memanggilku dengan sebutan Ibu, padahal kalau dipikir-pikir usia ku adalah sama dengan anak ke-2 beliau, karena kebetulan Ririn anak keduanya adalah teman sepermainan aku dulu .

“Ibu mau lihat Agung ? …”

“Tak tahu mengapa sejak kedatangan Ibu kemarin, Agung terlihat begitu gembira, Mbak Ika yang bilang bahwa Ibu datang untuk menengoknya. ” , cerita Ibu Diah sambil berjalan ke kamar anak lelaki itu . “Agung”, bathinku , tak pernah sekalipun aku menyebut atau memanggil nama itu. Aku selalu melihatnya dari jauh dan tak pernah memanggilnya . Padahal nama itu aku yang berikan.

Aku diam melihat dari luar jendela kamar Agung, sekarang kusebut nama itu dihatiku. Memang kulihat raut muka anak lelaki itu lebih berseri, kudengar sedikit ketawa nya dengan Mbak Ika yang menggodanya. Meski air liur itu terus saja keluar, dan matanya tidak pernah menatap, kulihat bola matanya selalu berputar-putar, tapi kenapa sekarang aku melihat bola mata itu terlihat hidup. Dan aku mengenali bola mata siapa itu.

“Ibu Diah .. aku ingin menemui Agung …” , ucapku lirih

Kulihat Ibu Diah terkejut sejenak “Anna ….??? ” Panggilnya kini tanpa menyebutku Ibu.

Kupastikan dengan anggukkan kuat dan tegas . Kurasakan tangan seorang Ibu Diah mengelus punggungku. Aku tersenyum .

Kubuka pintu kamar dan bersamaan dengan itu kulihat Agung menoleh . Kami bertatapan lama, Aku melihat jelas wajah anak lelaki berumur lima tahun ini. Wajahnya aneh tapi itu tidak membuat ketulusan malaikat hilang dari nya. Aku tidak melihat bola matanya berputar lagi. Aku melihat dia menatap lurus kepadaku. Aku mengenali mata itu, sangat mengenali. Mata teduh yang sangat kurindukan, mata yang selalu bisa menenangkan aku. Itu mata Wisnu , itu mata wisnu , bathinku dan ini adalah anakmu Wis …..

Aku datang mendekatinya dan aku berlutut melihat tepat di matanya , melihat air liurnya yang menetes, tapi tiba-tiba Agung membersihkan airliur itu dengan punggung tangannya dan berjalan mendekati aku yang berlutut menunggunya. Aku membuka tanganku lebar dan meminta dia untuk datang dan memelukku.

Agung mendekat dan menghambur kedalam pelukan aku, tak tahan aku menangis dan memeluk anak lelaki ini dengan erat, Aku merasakan debur jantung anak ini keras sekali, kurasakan tangannya erat memeluk punggungku dan kepalanya terkulai di bahuku. Lalu sayup aku mendengar kata “mama “ di telingaku .

Terkejut aku , ini kali pertama Agung mengucapkan sesuatu, “Ya nak … sebut lagi nak ini mama nak…”, kata ku berulang-ulang. Betapa indah kata itu kudengar di telingaku. Ku tahu Ibu Diah dan Mbak Ika mulai terisak.

“Mammm … maaaaaa” ucap Agung tersendat … tapi pasti … , bunyinya aneh tapi aku tahu dia memanggil aku.

Kuciumi wajahnya , tak perduli lagi aku dengan air liurnya . Ini Agung anakku, Ini Agung anak aku bersama lelaki itu, bersama Wisnu. Tak akan pernah lagi kutinggalkan dia , tak akan pernah lagi ku lepaskan Agung.

Ketika Lahir lima tahun yang lalu dan tidak benar-benar kuinginkan , dan tak pernah kulihat wajahnya ketika lahir kuberikan dia nama JANTAN AGUNG.

—————————-

“Maaamm … maaaaaa”

“Maaaammm … maaaaa”

Hanya kata-kata itu yang Agung ucapkan setelah itu . Dan hanya kata-kata itu yang teringat di bathinku saat ini.

Kulihat beberapa panggilan tak terjawab di HP ku , Wisnu dengan panik pasti menghubungi berkali-kali .

Sekarang harusnya lelaki ini yang akan ku tinggalkan ….

Kecewa …

Kecewa adalah ketika hati merasa bahwa apa yang dilakukan oleh seseorang membuat hati merasa tidak nyaman. Perasaan itulah yang aku rasakan semalam, aku kecewa yah aku kecewa.

Kayaknya pasti perempuan banget yah …., pasti kalau yang begini-begini adalah perempuan. Kenapa sih perempuan selalu cepat merasa kecewa, marah atau tersinggung, apalagi kalau mendekati datang bulan , hmmm…. [ini bisa dijadikan alasan sih .., meskipun terlihat cari-cari alasan.]

Tapi terserah mau dibilang apa, pokoknya aku kecewa tadi malam, seseorang merasa bahwa dia bercanda dan merasa akan menetralkan suasana tetapi telah membuat aku tersinggung ..

Apa sih beda serius, tegas dan galak ?

Hmmm apakah di suasana diskusi serius kita harus cekikikan ? dan di suasana cekikikan kita harus serius ? , aneh kalau aku gak tahu …. [harusnya aku adalah orang yang bisa membedakan semua suasana tersebut. ] , sehingga di diskusi tersebut tidak tersampaikan maksud yang hendak disampaikan karena sudah di “jatuhkan” terlebih dahulu.

Ada masalah dengan perempuan tegas ? …

Diantara kekecewaan , sebuah puisi di guratan pena malam tadi.

Harusnya ada …

Datar dan lepas jenuh di permukaan indah yang terabaikan
Kulihat ada kepekatan dalam ringkih hati terurai
Mengapa tak kau berikan bongkahan yang ku butuh
Hanya mungkin sekumpulan rasa yang terberai
Tapi mengapa tak kau tahu ?


Kuingin dapat rengkuhan kasih
Ketika mata memerlukan telinga
Ketika jiwa memerlukan hati
Ketika jatuh memerlukan tonggak
Ketika itu kau tak ada …

Sungai di mata indah telah pasang
Gemuruh di rongga dada telah tebal
Menanti kata menghujam telinga
Ketika itu kau tak ada …

Hilangkan saja …

Bisa kurasakan semua bias dihatinya
Bisa juga kurasakan warna pelangi di dadanya
Terbayang sudah keinginan di relungnya
Terluka dan bahagia ruanghati melihat dan merasakan semua

Jangan resah cinta
Karena ku tahu semua tak ada yang melipat asa terbalik
Kalau saja ada kebencian yang sangat
Percaya api akan membakar dan terus terbakar
Dan akan terus mencari untuk dapat membukamnya

Jangan tumpuk amarahmu cinta
Karena tak pantas onggok sampah itu kau simpan
Akan bau terus yang kau bawa
Tinggalkan rangkaian kekecewaan yang sudah ditebar
Tak akan kembali indah meski tak ada bayang yang bisa lepas

Jangan lagi ada kenangan itu
Ku tahu serpihan itu tak akan pernah pergi
Tapi bisa kau tinggal untuk tetap di kekang di ujung hatimu
Jangan biarkan terjal liku habiskan semua sahaja mu
Biarkan pergi dengan segala keangkuhan dan rasa meraja
Tak akan lama …..

Published in: on 22 Juni 2009 at 17:12 Komentar (29)
Tags: , , , , ,

Benci dan Cinta…

“Benci dan cinta adalah rasa yang saling berseberangan, keduanya mempunyai belahan berbeda, bila disaat kita membenci harus terus berusaha mencintai, dan ketika cinta itu sudah tidak ada maka janganlah menjadi benci [resapan rasa tanyasaja] “

Itu quote yang tadi pagi aku terima, tiba-tiba aku terhenyak dan diam sejenak . Beberapa waktu lalu aku pernah ada di situasi itu. Bahkan beberapa kali pernah terjebak di antara rasa keduanya.

Kemarin, rasa benci pernah begitu penuh didalam ruanghatiku, aku benci dengan semua yang ada , aku benci dengan semua keadaan yang menimpaku pada saat itu, dan yang paling parah adalah aku membenci orang yang pernah aku cintai. Rasa benci itu membuat aku sesak tak berdaya dan menggelepar bagai ikan kehilangan air. Rasa benci itu membunuhku perlahan.

Tak sadar aku simpan kebencian itu , di rongga-rongga kecil hati, tapi tak sadar juga ternyata itu telah keluar sampai mengalir ke pori-pori kulitku dan melenyapkan rasa cinta yang mungkin dulu terpelihara .

Duh .. kata-kata diatas seperti menampar aku saat ini. Pada saat membenci itu aku tidak ingin sama sekali mencintai, apa gunanya ? , tidak akan ada lagi cinta untuk rasa benci ini. Aku buat sebuah keputusan dengan rasa benci . Hmmm keputusan yang akhirnya tidak menjadi nyata ketika semua kebencian hilang karena rasa cinta ternyata lebih mewabah didalam nya . Cinta menunggu saat yang tepat untuk bersuara.

Jadi benar adanya ketika membenci tetaplah berusaha  mencinta .  Ketika amarah benci sudah di dada, tetap tanya ruanghatimu tentang cinta mu yang pernah ada .

Di tempat lain, ketika rasa cinta memang sudah tidak ada , kebencian tidak boleh hadir menggantinya. Ya aku tidak boleh membencinya , kami bisa bersahabat, kami bisa bersaudara, kami bisa bersama untuk memberi kebahagian untuk dua mutiara cinta yang ada.

Hari ini hariku lengkap, kudapatkan cinta dan kulepaskan kebencian .

Ketika Cinta berlabuh …

Kemarin batas itu tak juga jelas, hanya kata hati yang berpantulan menjelajah ruang yang sebenarnya tidak lagi luas. Lelah untuk selalu bersembunyi tapi juga tak ada langkah untuk berlari ke depan .

Aku takluk mengikuti kata hati, aku keluarkan semua kebimbangan dengan syarat tak pasti. Semua memang tak pasti . Tak ada kepastian untuk sebuah makna yang ingin sekali kujalani .

Lingkaran yang sedang kujalan ini adalah lingkaran kerikil dan bebatuan serta tembok kokoh. Sempat kulihat kilat ragu dan gelegar kebimbangan. Sempat pula dimakan rayap yang coba melihat kerapuhan yang tersirat.

Aku hanya menanam asa yang sekarang semakin jelas benihnya, walau juga samar apa bisa berbunga indah menjadi taman .

Aku melihat riak itu semakin jelas, ombak itu memanggil dan pasrah ditepian . Aku juga merasa bahwa waktu yang kupunya mulai bergerak. Bergerak ke arah yang sama. Bergerak ke tujuan yang indah .

Ah susah sekali untuk kurangkai kata ini , hanya untuk kusampaikan betapa aku mulai mencintai mu ….

Kata untukmu …

Kesunyian ini telah hampir berganti
Gamang ini telah hampir selesai
…….

Tapi rasa takut ini terus saja mengikuti
Aku takut tak sampai
Aku takut asa ini hanya sebatas angan …

Ketika tatapannya memberikan keteduhan
Ketika genggamannya memberikan ketenangan
Ketika kata-katanya mengalun bagai simfoni
Ketika bersamanya hadirkan kenyamanan.

Jangan pergi biru
Jangan pergi karena ku tak ingin menangis lagi
Jangan pergi karena kau tahu aku tak akan mampu lagi
Jangan pergi karena aku membutuhkan mu …..

Tetaplah disini
Terus disini temani aku
Merangkai waktu yang tak pernah berhenti memberi cinta ….


ps. setelah dapat ijin dari mereka, puisi diatas buat sahabatku dan sahabatku yg satu lagi yang jauh disana. Semoga mereka tetap bersama.

Published in: on 5 Juni 2009 at 12:27 Komentar (43)
Tags: , , , , ,

Ternyata Ihlas itu Mudah ….

Setelah sekian lama berpisah dengan mantan suami , dan ketika hubungan ini menjadi lebih baik sekarang ini . Lebih ke dalam komunikasi sepertinya. Karena kami sudah tidak bertemu lagi sejak kejadian heboh beberapa bulan lalu. Hanya anak-anak yang bertemu papanya.

Aku dan mantan suami mempunyai kisah unik didalam perpisahan yang kami sepakati bersama. Terjadi beberapa kali perselisihan dan akhirnya perang dingin malah dimulai ketika perpisahan itu sudah berjalan dalam hitungan bulan. Kami jadi sering bertengkar malah ketika perpisahan ini terjadi . Ah ….

Beberapa hari yang lalu dia telp aku dan berbicara agak serius . Ini mengenai rencana pernikahan nya dengan calon istrinya . Deg … entah kenapa aku terdiam sejenak ketika mendengar dia akan menikah lagi . Tak terasa ada rasa panas di mataku.

“Dek .. .” suara disana terdengar lagi

eh ya gpp … kapan papa menikah …” meskipun telah pisah tapi kadang panggilan papa mama masih kita lakukan, walaupun sudah mulai dibiasakan untuk memanggil nama masing-masing saja.

” Mungkin sekitar bulan Agustus ”

“Pa sebaiknya papa bicara dengan abang, dan perkenalkan calon istri papa dengan abang dan adek “ jawab ku , walaupun aku tidak yakin apa aku bisa mempertemukan anak-anak dengan calon istrinya itu.

“Ya pasti. Kamu juga harus ketemu dia ma, dia ingin kenal kamu “

“hmmmmm ….., ya nanti aku pikirkan dulu …. Anak-anak saja dulu ..” kataku .

Bagiku perempuan lain ini masih menorehkan rasa sakit dihatiku .

Percakapan itu terus saja teringat di otakku. Mantan suamiku akan menikah 2 bulan lagi dan anak-anak akan mempunyai 2 ibu , hmmmm … tak tahu dimana , rasa sakit yang selama ini aku ignore , dan tak ingin aku tengok ada dimana rasa sakit itu. Aku tutup dengan semua keceriaan yang aku dapat dari orang-orang sekelilingku dan pastinya tingkah pola lucu anak-anakku.

Malam-malam di curhatku dengan Tuhanku, aku bercerita sambil menangis bahwa ada rasa tidak ihlas dihati untuk merelakan dia menikah dengan calon istrinya. Rasa benci dan kecewa masih terus meraja di dada ini .

Ya Allah beri rasa ihlas itu … hilangkan benci dan kecewa ini , hadirkan rasa kasih sayang ini untuk nya dan calon istrinya. Selesaikan ini dan berilah ruanghatiku kenyamanan untuk menerima takdirmu. “

Doa itu terus aku ucapkan ketika aku bersimpuh selesai menunaikan kewajibanku. Aku berharap aku bisa terus berjalan tanpa dibebani rasa yang tanpa sengaja terus aku simpan di ruanghatiku yang paling dalam.

———————————————

Kamis libur siang lalu mantan suamiku kembali telp dan menanyakan keadaanku dan anak-anak. Dia bilang aku harus kedokter karena flu yang sudah hampir seminggu ini . Entah kenapa kali  ini ketika dia menelepon ini hatiku tenang dan ketika dia kembali menceritakan tentang rencana pernikahan itu , tak lagi ku rasakan ada air mata di mataku dan tak ada irisan sembilu di hatiku. Dia berharap aku dan anak-anak bisa hadir disana nantinya.

Dan saat itu kami dengan sangat terbuka membicarakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai ayah dari anak-anakku . Dan dia menyanggupi semua, dan di akhir telp dia masih bilang “papa sayang mama, mungkin dengan cara ini papa bisa membahagiakan mama dan anak-anak.” Entah apa artinya tapi aku merasa bahwa aku mau dia bahagia juga.

Dan sorenya entah ada kekuatan dari mana aku mengirim sebuah sms untuknya dan isinya “Papa… mama ihlas papa menikah lagi, Insya Allah mama akan hadir bersama anak-anak nantinya. “

Cuma itu dan memang aku menangis …. Tapi ini adalah tangis keihlasan. Allah telah mengabulkan doaku. Amin ….

Terima kasih Ya Allah. Semoga ini yang terbaik untuk ku dan juga anak-anakku. Semoga dia bahagia dan aku bahagia menjalani semua takdir Mu.

Published in: on 22 Mei 2009 at 12:57 Komentar (64)
Tags: , , ,

Diproteksi: Mou …

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:


Published in: on 20 Mei 2009 at 12:41 Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentar
Tags: , , , , , , , , , , ,

Sebuah kebimbangan

Kembang-kembang itu sekarang sudah bermekaran, indah sekali , kemarin hanya kuncup yang kulihat. Warnanya pun menawan hati. Ada putih, merah, kuning dan ungu. Seakan mereka tersenyum merasakan keindahan .

Aku duduk termenung disini, hatiku pun demikian, rasanya sedang mekar seperti kembang indah itu. Tapi seperti kembang-kembang itu yang akan layu , apakah keceriaan hati ini pun akan layu ?

Hanya takdir yang tak bisa ku lawan, semua sudah tertulis. Kadang aku malu dengan rasa ini . Tak pantas saja rasanya. Dan aku terus menyakinkan diriku bahwa ini adalah benar. Ada kebahagian tertunda yang akan aku dapatkan.

Tapi apakah aku akan kecewa (lagi) ?

Published in: on 18 Mei 2009 at 13:17 Komentar (28)
Tags: ,

Diproteksi: Belitan Cinta

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:


Published in: on 13 Mei 2009 at 13:04 Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentar
Tags: , , , , , , , , ,