Jantan Agung …
Baca juga sebelumnya
http://ruanghati.blogdetik.com/2009/01/1…
http://ruanghati.blogdetik.com/2009/04/0…
http://ruanghati.blogdetik.com/2009/04/1…
———————
Kulihat lagi anak lelaki itu, menjijikan , air liurnya terus saja turun dan tatapan matanya kosong. Bentuk dahi mata dan tulang pipinya terlihat aneh, dan anak lelaki itu menggumam tak jelas. Entah apa yang ada dipikirannya.
Belum pernah sekalipun aku memeluk anak lelaki itu, tak pernah sekalipun aku menatap matanya, tak pernah juga kusentuh kulitnya. Meskipun aku mencintai dan menyayanginya . Melihatnya pun mungkin hanya setahun sekali, tapi aku selalu rutin mengirim semua keperluannya di yayasan sekolah anak-anak cacat ini .
Kutarik nafasku dalam ketika Ibu Diah, pimpinan yayasan ini menyentuh bahuku pelan .
“Sudah 2 hari agung seperti itu bu …” katanya lembut . “Dia hanya bergumam tak jelas, tak senyum dan tak mau di sentuh kecuali dengan Mbak Ika yang setiap hari memang membantunya”
Aku hanya tercenung, tatapanku kembali pada anak kecil berumur 5 tahun itu, putih bersih kulitnya . Kalau saja mukanya tidak aneh seperti itu pasti wajahnya ganteng. Dan untuk anak seumuran dia, tubuhnya terlihat lebih jangkung. Hanya air liur yang selalu keluar itu yang membuat aku jijik melihatnya.
“Apa dia sakit bu …? “ tanyaku perlahan .
Ibu Diah hanya tersenyum . “Agung tidak sakit Bu, Agung butuh kasih sayang dan sentuhan Ibu …” ucap Ibu Diah lirih tapi cukup menohok hatiku. Masih belum bisa kuakui itu. Masih teriris rasanya , dia tak benar-benar kuinginkan.
——————–
Hari ini hari pertama aku ke Yogyakarta, kota kelahiranku, aku akan selalu pulang ke Yogya jika hati dan perasaan ku sedang tak tentram . Aku merasa tenang jika aku sudah kembali ke Yogya, meski ada beberapa kenangan pahit disini tetapi ketika turun dari pesawat tadi aku merasakan ketenangan dan aku pasti akan mengunjungi anak lelaki itu .
Kejadian beberapa hari lalu mengusik bathinku, serasa kepingan yang tak akan pernah selesai seolah bermain di benak dan kepalaku. Hari-hariku hanya indah jika bersama lelaki itu, tak akan pernah bisa kutinggalkan pelukannya , apalagi tatapan teduhnya . Jiwaku selalu merindukan halus desah nafasnya. Aku selalu merasa damai dan nyaman serta terlindungi bila dekat di dekapan lelaki itu. Selalu terasa lapang ketika aku memeluknya . Ah … baru dua hari kutinggalkan Jakarta dan lelaki itu. Bau keringatnya sudah kurindukan.
Dua hari yang lalu aku bersama lelaki itu merenda hati dan asmara asa yang tidak akan pernah ada habisnya . Tak pernah ada satu lelakipun di dunia ini yang aku cintai kecuali dia. Walaupun aku melayani setiap lelaki yang membayarku , tetapi tak pernah kuberikan hati ku kepada mereka , hanya tubuhku milik mereka dalam jam-jam yang mereka bayar. Tetapi ketika bertemu dengan lelaki itu bukan hanya tubuh yang kuberikan hati dan jiwaku ku gadaikan untuknya. Hanya untuk lelaki itu , di se umur hidupku. Aku termakan sumpah.
Telepon yang ditutup dengan bergegas di seberang sana membuat aku termenung lama . Aku tahu pasti itu siapa , dan dia mencari siapa. Kutoleh kan kepala ku kesamping, kulihat lelaki itu terlelap tidur tenang sekali. Kulihat nafasnya teratur berbunyi satu-satu. Wajah lelaki ini begitu sempurna, tubuhnya kekar dan kuat. Ucapan yang keluar dari mulutnya selalu indah untukku. Dia perlakukan aku seperti seorang putri, dia tidak pernah menyakitiku. Bercinta pun selalu terasa di surga . Lelaki itu selalu memberikan yang terbaik untukku. Duh cinta ku …. , tak benar-benar kau ku miliki seutuhnya.
Ku tundukkan kepala untuk mencium keningnya sambil kupejamkan mata dan hati ku menggumamkan doa, semoga semua ini tak pernah hilang dari asaku. Tetapi tiba-tiba kurasakan tangannya menyentuh leher ku dan memeluk tubuhku erat , membuatku jatuh menimpah tubuhnya yang terlentang. Entah bagaimana aku sekarang berada dibawah nya dan bibirnya dengan sikap mengulum bibirku . Lembut dan indah , lelaki itu menciumi wajahku dengan ketenangan , mataku, hidungku, kedua pipiku dan lama di bibirku, lalu turun ke leher ku. Aku mendengar dengusan nafas ringan tapi aromanya membuat dadaku berdesir merasakan kegairahan yang kembali datang.
Semua hilang , keresahan hati lenyap berganti dengan gejolak asmara, mengapa aku selalu haus akan cintanya , kasih sayangnya dan semua sentuhannya, hanya sentuhannya yang bisa membuat semua pori-pori ditubuh menikmatinya. Kali ini lelaki ini memperlakukan semua yang ada ditubuhku dengan sangat hati-hati , dia menyentuh semua milikku dengan lembut. Sampai ketika aku merasakan semua, bagai kapal yang berlayar semakin cepat karena angin mempermainkan layarnya dengan riang. Aku menyambut kedatangan ombak dan desau angin dengan kegairahan yang matang. Lelaki itu sedang membawa ku berlayar dengan kayuhan yang mesra. Aku tiba diujung bersama-sama , kami mereguk semua nya dengan bersama . Kulihat dia tersenyum , dia mencium mataku yang basah oleh airmata bahagia dan kesedihan. Rasa yang datang sekaligus bersamaan.
———————
Kamar Hotel di Yogyakarta
Pagi jam delapan pagi, aku sudah bergegas untuk datang ke yayasan tempat anak lelaki kecil itu. Aku ingin melihatnya lagi dan kali ini aku ingin menyentuhnya , aku ingin menyentuh pipinya , aku ingin menatap matanya. Tak tahu apakah aku sanggup melihat anak lelaki itu .
Cepat kuberhentikan sebuah taksi dan memintanya mengantarkan ke alamat yang aku tuju ditengah kota tak jauh dari hotel tempat aku menginap. Hmmm aku akan tuntaskan hari ini, mungkin ini kali terakhir aku mengunjunginya. Aku akan bilang pada Ibu Diah untuk tetap merawat anak lelaki itu sampai nanti dan aku akan tetap mengirimi biaya bulanan tapi aku tidak akan mengunjunginya lagi, dan jika nanti ada keluarga yang memang ingin merawatnya, aku akan serahkan semua kepada Ibu Diah dan pengacara ku. Biar beres semua, biar kutinggalkan semua masa lalu ini .
“Selamat pagi Bu Anna …” sapa Ibu Diah lembut ketika melihat ku sudah ada di ruangan nya.
Aku tersenyum, meski Ibu Diah itu sudah menganggap aku anaknya tapi beliau tetap memanggilku dengan sebutan Ibu, padahal kalau dipikir-pikir usia ku adalah sama dengan anak ke-2 beliau, karena kebetulan Ririn anak keduanya adalah teman sepermainan aku dulu .
“Ibu mau lihat Agung ? …”
“Tak tahu mengapa sejak kedatangan Ibu kemarin, Agung terlihat begitu gembira, Mbak Ika yang bilang bahwa Ibu datang untuk menengoknya. ” , cerita Ibu Diah sambil berjalan ke kamar anak lelaki itu . “Agung”, bathinku , tak pernah sekalipun aku menyebut atau memanggil nama itu. Aku selalu melihatnya dari jauh dan tak pernah memanggilnya . Padahal nama itu aku yang berikan.
Aku diam melihat dari luar jendela kamar Agung, sekarang kusebut nama itu dihatiku. Memang kulihat raut muka anak lelaki itu lebih berseri, kudengar sedikit ketawa nya dengan Mbak Ika yang menggodanya. Meski air liur itu terus saja keluar, dan matanya tidak pernah menatap, kulihat bola matanya selalu berputar-putar, tapi kenapa sekarang aku melihat bola mata itu terlihat hidup. Dan aku mengenali bola mata siapa itu.
“Ibu Diah .. aku ingin menemui Agung …” , ucapku lirih
Kulihat Ibu Diah terkejut sejenak “Anna ….??? ” Panggilnya kini tanpa menyebutku Ibu.
Kupastikan dengan anggukkan kuat dan tegas . Kurasakan tangan seorang Ibu Diah mengelus punggungku. Aku tersenyum .
Kubuka pintu kamar dan bersamaan dengan itu kulihat Agung menoleh . Kami bertatapan lama, Aku melihat jelas wajah anak lelaki berumur lima tahun ini. Wajahnya aneh tapi itu tidak membuat ketulusan malaikat hilang dari nya. Aku tidak melihat bola matanya berputar lagi. Aku melihat dia menatap lurus kepadaku. Aku mengenali mata itu, sangat mengenali. Mata teduh yang sangat kurindukan, mata yang selalu bisa menenangkan aku. Itu mata Wisnu , itu mata wisnu , bathinku dan ini adalah anakmu Wis …..
Aku datang mendekatinya dan aku berlutut melihat tepat di matanya , melihat air liurnya yang menetes, tapi tiba-tiba Agung membersihkan airliur itu dengan punggung tangannya dan berjalan mendekati aku yang berlutut menunggunya. Aku membuka tanganku lebar dan meminta dia untuk datang dan memelukku.
Agung mendekat dan menghambur kedalam pelukan aku, tak tahan aku menangis dan memeluk anak lelaki ini dengan erat, Aku merasakan debur jantung anak ini keras sekali, kurasakan tangannya erat memeluk punggungku dan kepalanya terkulai di bahuku. Lalu sayup aku mendengar kata “mama “ di telingaku .
Terkejut aku , ini kali pertama Agung mengucapkan sesuatu, “Ya nak … sebut lagi nak ini mama nak…”, kata ku berulang-ulang. Betapa indah kata itu kudengar di telingaku. Ku tahu Ibu Diah dan Mbak Ika mulai terisak.
“Mammm … maaaaaa” ucap Agung tersendat … tapi pasti … , bunyinya aneh tapi aku tahu dia memanggil aku.
Kuciumi wajahnya , tak perduli lagi aku dengan air liurnya . Ini Agung anakku, Ini Agung anak aku bersama lelaki itu, bersama Wisnu. Tak akan pernah lagi kutinggalkan dia , tak akan pernah lagi ku lepaskan Agung.
Ketika Lahir lima tahun yang lalu dan tidak benar-benar kuinginkan , dan tak pernah kulihat wajahnya ketika lahir kuberikan dia nama JANTAN AGUNG.
—————————-
“Maaamm … maaaaaa”
“Maaaammm … maaaaa”
Hanya kata-kata itu yang Agung ucapkan setelah itu . Dan hanya kata-kata itu yang teringat di bathinku saat ini.
Kulihat beberapa panggilan tak terjawab di HP ku , Wisnu dengan panik pasti menghubungi berkali-kali .
Sekarang harusnya lelaki ini yang akan ku tinggalkan ….


